Daftar isi

Hati-Hati! Inilah Tantangan UMKM di Indonesia Pada Tahun 2020

Hati-Hati! Inilah Tantangan UMKM di Indonesia Pada Tahun 2020

63,9% UMKM omsetnya berkurang hingga lebih dari 30% akibat pandemi Covid-19. Sementara 97% pekerja Indonesia diserap oleh sektor UMKM. Jelas ini kabar buruk bagi perekonomian Indonesia. Namun dibalik resiko tersebut justru muncul sebuah peluang baru. Jumlah transasksi online di masa pandemi meningkat 400% menurut Dirjen PPI Kominfo.

Meningkatkan transaksi ini disebabkan karena adanya kebijakan jaga jarak sosial. Terlebih lagi masyarakat Indonesia sangat menyayangi keluarganya sehingga mengurangi kontak fisik dengan kegiatan luar rumah. Beberapa fakta mengatakan baha belanja online sudah jadi bagian dari gaya hidup.

Dengan kata lain, ada pandemi ataupun tidak, aktifitas belanja online akan tetap meningkat. Permasalahannya saat ini adalah mampukah UMKM memanfaatkan masa sekarang ini menjadi suatu peluang? Sebelun menjawabnya, UMKM perlu menyelesaikan tantangan sebagai berikut.

Ragu untuk merubah konvensional menuju online

Menteri Koperasi dan UKM menyatakan bahwa hanya 13% UMKM yang beralih dari konvelsional menuju online. Mereka sudah takut duluan dengan para kompetitor besar. Padahal kompetitor besar justru melihat UMKM ini adalah pesaing terbesar mereka. Di sisi lain karena kurangnya pengetahuan tentang digital marketing dari hal yang paling sederhana.

Agar bisa bersaing, mereka harus memiliki bekal dalam pemasaran online. Berawal dari memiliki Media Sosial Bisnis hingga investasi Website.

Kurangnya Kesiapan untuk Beralih dari Online ke Offline

Kurangnya wawasan mengenal fitur-fitur online shop seperti marketplace. Bagi mereka yang tidak mau investasi website, berjualan di marketplace jelas akan mendapatkan kemudahan. Namun beberapa masyarakat masih tidak mau belajar akan hal itu. Padahal dari segi kemudahan Marketplace masih menjadi yang nomer satu. Mereka cukup memajang produk mereka, sementara pihak pengembang akan terus menignkatkan fitur kemudahannya.

Jangkauan Pasar yang Belum Luas

Data dari KIC (Katadata Insight Center) 81,6% UMKM hanya mengjangkau lingkungan sekitar. 31,6% menjangkau antar provinsi. Sementara yang mencanegara hanya 3,9%. Ketidaksiapan untuk ekspansi adalah kendalanya. Walaupun mereka mereka mampu, fasilitas di daaerah masing-masing terkadang tidak mendukung. Namun sekarang semua sudah ada solusinya baik melalui website, online marketplace, atau media sosial.

Perlunya Meningkatkan Ketahanan dan Daya Saing Bisnis

KIC mencatat 62.6% UMKM mampu bertahan hingga di atas Maret 2021. Sementara itu ada 6% UMKM mengaku hanya bisa bertahan kurang dari tiga bulan ke depan. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian UMKM memerlukan peningkatan ketahanan dan daya saing. Dan salah satu media yang bisa digunakan oleh UMKM untuk bisa bertahan adalah website.

Mengapa demikian? Karena bisnis yang sudah memiliki website dan basis massa online tidak akan begitu terpengaruh dengan kebijakan social distancing. Proses bisnisnya pun sudah terbiasa dijalankan secara jarak jauh.

Selain bisa meraih penghasilan dari para pelanggan yang memesan secara online. Keputusan untuk go online juga membantu mereka untuk tetap bertahan di masa pandemi.

Tidak hanya itu, website pun membantu meyakinkan para konsumen tentang kualitas produknya.

Hal ini bisa dilihat pada halaman utama website. Mereka menampilkan berbagai elemen yang mendukung brand image. Mulai dari foto produk hingga testimoni.

Selain itu, websitenya juga menyediakan halaman-halaman yang penting untuk konsumen baru. Contohnya seperti katalog produk, ketentuan pembayaran, dan daftar ongkos pengiriman.

Hal ini dapat dicontoh juga oleh UMKM lainnya. Sehingga, mereka dapat meningkatkan daya saingnya melalui kredibilitas yang ditunjukkan via website.

Menurut Jacob, website merupakan salah satu media yang paling krusial dalam menjalankan transformasi digital.

Karena, website dapat memudahkan bisnis untuk ditemukan oleh calon konsumen.

Menghadapi Tantangan UMKM dengan Transformasi Digital

UMKM di tahun 2020 menghadapi beberapa tantangan besar. Terutama soal perlunya meningkatkan ketahanan bisnis dan jangkauan pasar.

Untuk itu, solusi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan UMKM di tahun 2020 adalah transformasi digital. Inilah mengapa UMKM wajib menepis keraguan dan ketidaksiapan untuk beralih ke platform online.

Namun, bagaimana cara memulai transformasi digital?

Seperti yang dijelaskan oleh Meika Hazim, hal pertama yang mesti Anda lakukan adalah mengidentifikasi segmen pasar Anda. Cari tahu apa yang menjadi masalah mereka, dan pastikan produk Anda mampu menjadi solusi atas permasalahan tersebut.

Selanjutnya, Anda perlu membuat bisnis Anda mudah ditemukan di mesin pencari. Anda dapat melakukannya dengan menggunakan website.

Seperti yang Anda lihat pada kasus Coklat nDalem, website dapat membantu memperkenalkan produk, melakukan promosi, dan meningkatkan kredibilitas bisnis mereka.

Untuk bisa memanfaatkan website dengan baik, Anda perlu juga menambahkan WooCommerce ke website, menambahkan fitur-fitur wajib toko online, melakukan optimasi local SEO dan SEO khusus toko online.

Agar daya saing bisnis online Anda semakin tinggi, Anda juga bisa memanfaatkan media lainnya untuk mempromosikan bisnis Anda, seperti WhatsApp Bisnis, Google Bisnisku, dan Email bisnis.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk segera tingkatkan potensi bisnis Anda dengan go online!

Ayo mulai Go Online sekarangjuga bersama Digital Narayana!

Ingin segera go online dan membangun website untuk bisnis Anda? Tak usah khawatir, Anda bisa membangun website dengan mudah di Digital Narayana! Cukup klik tombol Whatsapp di bawah untuk mulai membuat website:

Saya Ingin Membuat Website Sekarang Juga!

Setelah membuat website, pasti Anda ingin segera menghasilkan keuntungan dari sana juga, bukan? Untuk itu, Anda bisa mencoba tips-tips ampuh meningkatkan penjualan online yang ada di blog.


Sumber:
https://www.niagahoster.co.id/blog/tantangan-umkm-indonesia/

Halo Sobat Diyana

Langganan info Digital Marketing yuk!

Need Help? Chat with us